ETF Mencoba Peruntungan di Tengah Pelemahan Pasar

Diposting pada

Pelemahan indeks harga saham campuran (IHSG) dalam beberapa pekan terakhir dimanfaatkan oleh manajer investasi untuk menghadirkan produk reksa dana pasif.

Melemahnya pasar dinilai sebagai momentum sempurna bagi perusahaan untuk merilis produk gres dengan cita-cita investor melaksanakan agresi beli. Sebab, turunnya indeks berdampak pada terjangkaunya harga saham dan produk turunannya.

Head of Investment PT Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai, ketika ini reksa dana pasif baik reksa dana indeks maupun Exchange Traded Fund (ETF) cukup diminati pasar alasannya yakni dalam dua tahun terakhir kinerjanya cukup positif.

“Momentum ketika ini sudah tepat, pasar turun penjualan reksa dana pasif dimaksimalkan. Harapannya ketika ada pemulihan pasar return bisa cukup tinggi,” kata ia kepada Bisnis, Senin (10/9/2018).

Apalagi, kata Wawan, tren yang ada selama ini pada penghujung tahun kinerja saham memperlihatkan perbaikan. Momentum ini tentu sangat dimanfaatkan oleh manajer investasi untuk memberondong pasar dengan produk gres jelang penutupan tahun.

Dua manajer investasi yang meluncurkan produk ETF yakni PT Pinnacle Persada Investama dan PT MNC Asset Management. Awal pekan ini, Pinnacle telah menghadirkan ETF pertama yang memakai indeks FTSE Indonesia sebagai underlying benchmark, yakni Pinnacle FTSE Indonesia ETF.

Chief Investment Officer (CIO) PT Pinnacle Persada Investama Andri Yauhari menjelaskan, kondisi market sepanjang tahun ini terbilang cukup fluktuatif. Menurutnya, ketika ini merupakan momentum sempurna untuk meluncurkan ETF ke pasar Tanah Air.

“Secara jangka panjang potensi produk ini sangat bagus. Di sisi lain keadaan market kita juga kuat. Ini produk yang dikelola secara pasif yang kami yakin akan memperlihatkan return cukup baik,” ujarnya.

Di sisi lain, perseroan optimistis produk ini akan bisa megerek dana kelolaan. Pasalnya investor yang bisa masuk tidak hanya berasal dari dalam negeri melainkan juga dari regional dan global. Dalam meluncurkan produk ini, perseroan bermitra dengan global index provider yakni FTSE Russel.

“Tapi nanti tentunya yang akan lebih banyak porsi dari investor institusi di dalam negeri meskipun dari regional dan global juga bisa masuk,” ujarnya.

Sebelumnya, PT MNC Asset Management meluncurkan produk ETF pertamanya yakni reksa dana ETF MNC36 Likuid. Produk ini sanggup dibeli investor baik di pasar premier maupun pasar sekunder secara realtime atau sanggup ditransaksikan di bursa mirip layaknya saham dengan contoh indeks MNC36.

Direktur Utama PT MNC Asset Management Frery Kojongian mengatakan, produk ini dirilis untuk memenuhi kebutuhan investor institusi. “Tapi kami juga menyediakan ini di dua pasar, yakni pasar primer dan pasa sekunder. Kaprikornus semua lapisan masyarakat bisa membeli,” kata dia.

Baca Juga : Download Lagu

Perseroan menargetkan dana kelolaan alias asset under management (AUM) untuk produk ini senilai Rp100 miliar dalam waktu satu tahun. “Tentunya kami ingin dana kelolaan sebanyak-banyaknya. Tapi bila ditany berapa, kami targetkan sekitar Rp100 miliar dalam tahun pertama.”

Sementara itu, kinerja seluruh produk reksa dana ETF secara year to date (ytd) per final Agustus kemudian negatif sejalan dengan jebloknya pergerakan saham. Dari data Infovesta Utama, IHSG secara ytd per Agustus kemudian -5,3%. Adapun seluruh kinerja produk ETF yang jauh di bawah IHSG.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *